Kisah Ispiratif

Senin, 08 November 2010

Ketika Dua Hati Bersatu

           Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar "Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri". Aih...

           Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan pernikahan. Dalam firmannya, "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir." (QS. Ar-Rum: 21).

           Menikah itu Subhanallah indah,jadi teringat kata Almarhum ayah saya dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun.

           Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.

           Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.

           Saya jadi ingat, saat itu seorang istri memarahi suaminya habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah, kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu hebat. Saya kira akan terjadi "perang" hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu uaranya bertutur "Maafkan Mama ya Pa..". Gegas ia raih tangan suami dan mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang.

           Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia berbuat demikian. "Saya mencintainya, karena ia istri yang dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya mencintainya" demikian jawabannya.

           Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka.

            Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior.
Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do'a istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allahi supaya suami selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.

            Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan saya mengingatkan lagi sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad. Salah satu wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir kehidupannya dalam peristiwa haji wada':

"Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa -diantara para istri- bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, istri fir'aun" (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah ).

Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya pernikahan, Patrikan firman Allah dalam ingatan : "...Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah:187)

Torehkan hadist ini dalam benak : "Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya" (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a)

Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya.

Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.

Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki "Surga". Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)

Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan.Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran,

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman

Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.

Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world "Akhirat". Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian.
Allahumma Aamiin.

Barakallahu, untuk para pengantin muda. Mudah-mudahan saya mampu mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan besar, yang begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan. Mudah-mudahan jika giliran saya tiba, tak perlu lagi saya bertanya mengapa teman saya menjadi begitu murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu

menemukan jawabannya sendiri.

* NN

Minggu, 07 November 2010

Mencari Senyum


Helvy Tiana Rosa

Seorang lelaki tua dengan langkah tertatih-tatih memasuki sebuah kota. Wajahnya kusut, matanya liar dan pakaiannya kumal. Beberapa orang yang berpapasan dengannya segera menyingkir.

Di suatu tempat, di bawah sebuah pohon setua dirinya, lelaki itu tersungkur. Perlahan ia mencoba bangkit dan kembali memandangi orang yang lalu lalang di kota itu.

Lelaki Tua: “Tolong…! Tolonglah aku! Tolong…!” (mengiba, mengulang-ulang perkataannya)

Dua lelaki muda melintas di hadapannya. Memandang sekilas kemudian menghampirinya. Lelaki tua itu terus merintih-rintih. Beberapa orang lewat begitu saja tanpa peduli.

Lelaki 1: “Ada apa, Pak? Ada apa?” (memegang tangan, membimbing lelaki tua itu bangkit)

Lelaki 2: “Ya, apa ada yang bisa kami bantu?” (prihatin)

Lelaki Tua: “Tolonglah saya. Tolong! Saya…saya mencari sesuatu yang telah tak ada lagi di kota kami.”

Dua lelaki muda itu saling berpandangan heran.

Lelaki 1: “Sesuatu yang tak ada lagi di kota bapak?”

Lelaki Tua: “Ya…,aku mencari sesuatu yang sangat berharga, yang tiba-tiba saja tercerabut dari wajah semua orang di kota kami.” (manggut-manggut, sedih)

Lelaki 1 dan lelaki 2: “Apa itu…?”

Lelaki Tua: (menerawang penuh harap) “Sebuah senyuman.”

Lelaki 1 dan 2: “Senyuman?”

Lelaki 1: “Aneh. Bapak bilang bapak mencari sebuah senyuman. Apa saya tidak salah dengar?”

Lelaki Tua: (menggeleng-gelengkan kepala) “Ya, aku sudah berjalan begitu jauh, mencari sebuah senyuman.”

Lelaki 2: “Jangan bergurau! Semua manusia diciptakan dengan wajah. Di dalam wajah kita, ada bibir yang bisa digerakkan begini, begini dan begitu (menggerakkan bibirnya ke depan, ke samping dan sebagainya dengan kesal).

Lelaki 1: “Ya, bahkan orang segila apa pun masih memiliki senyuman. Aku benar-benar tak mengerti. ”

Lelaki Tua: “Kalau begitu kalian menganggapku lebih dari gila!? (sewot). Dengar, aku tidak mengada-ada! Semua orang di kotaku sudah tak bisa lagi tersenyum! Titik!”

Lelaki 1 dan 2 saling berpandangan kembali.

Lelaki 1 : (menarik napas panjang, menggaruk-garuk kepala yang tak gatal) “ Baiklah. Sesuatu terjadi tentu ada sebabnya. Mungkin aku pun telah gila, tetapi aku ingin tahu hal apa yang menyebabkan penduduk di kota kalian tak bisa tersenyum?”

Lelaki 2: “Ya, apa ada orang-orang yang berkeliaran dan menjahit semua bibir penduduk di kotamu, sehingga mereka tak bisa lagi tersenyum atau membuka mulut untuk tertawa?” (mengejek)

Lelaki Tua: (menggeleng, serius) “Tidak. Bahkan jahitan-jahitan di mulut kami telah dilepaskan. Dulu memang penduduk kota kami tidak bisa bicara, kecuali (mencontohkan) Hm…hm…(mengangguk-angguk), tetapi kini, setelah jahitan-jahitan dilepaskan dari bibir kami, entah mengapa bibir kami menjadi kebas. Kami bebas berkata-kata tetapi tak bisa lagi tersenyum. Bahkan, bila kami mencoba untuk tertawa yang keluar adalah amarah, tangisan dan airmata….”

Lelaki 2: “Aku tak mengerti. Aku benar-benar tak mengerti. Lebih baik aku pergi daripada mendengarkan celotehan orang gila ini!” (kesal dan berbalik akan pergi)

Lelaki 1: (mengejar lelaki 2 yang bergegas pergi) “Tunggu, teman! Tetapi…kurasa, entahlah…, ia datang dari jauh, mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, dan mungkin kita bisa kita menolongnya.”

Lelaki 2: (cemberut) “ Menolong? Bagaimana menolong orang gila ini?”

Lelaki 1 bergegas menghampiri lelaki tua itu.

Lelaki 1: “Katamu seluruh penduduk di kotamu tak dapat lagi tersenyum?”

Lelaki Tua: (manggut-manggut): “Ya…,ya….”
Lelaki 1: “Berarti kau juga?”

Lelaki Tua: (manggut-manggut lagi) “Tentu saja!”

Lelaki 1 bergegas kembali menghampiri Lelaki 2. Wajahnya lebih cerah.

Lelaki 1: “Dengar, lelaki tua itu mengaku bernasib sama dengan seluruh penduduk di kotanya! Ia juga tak bisa tersenyum! Tugas kita adalah menolongnya agar ia bisa tersenyum lagi! Nah, setelah ia bisa tersenyum kembali, mungkin hal ini akan berpengaruh pada para penduduk kota itu.”

Lelaki 2: (Bengong) “Jadi…kita harus membuatnya tersenyum?“

Lelaki 1: “Ya, tunggulah sebentar di sini. Aku akan menyuruh orang membawa makanan dan minuman yang enak untuknya. Siapa tahu ia akan tersenyum.”

Lelaki 2: “Tentu saja (setuju, yakin), ia akan tersenyum dan berterimakasih pada kita.”

Lelaki 1 meninggalkan tempat itu. Lelaki 2 sesekali memperhatikan si lelaki tua. Wajah lelaki tua itu keras, dingin, dan penuh curiga.

Tak lama, Lelaki 1, kembali bersama seorang lelaki lain bergaya genit (lelaki 3) yang membawa baki penuh berisi makanan dan minuman yang enak. Mereka meletakkan nampan besar itu di hadapan si lelaki tua.

Lelaki 1: “Ini kubawakan makanan dan minuman lezat. Nikmati dan tersenyumlah.”

Lelaki Tua: (memakan makanan dan minuman itu dengan rakus) “Terimakasih….”

Lelaki 2: (menghampiri) “Mengapa kau tak mengucapkan terimakasih sambil tersenyum pada kami?”

Lelaki Tua : “Sudah kukatakan, aku tak bisa tersenyum!”

Lelaki 1,2,3 saling berpandangan.

Lelaki 2: “Aku akan menggelitik kakinya. Biasanya bila digelitik, orang pasti akan tertawa!”

Lelaki 1 : “Ya, ya…, ide yang bagus!”

Lelaki 3: (bindeng) “Aih, ike juga setuju!”

Lelaki 2 segera menggelitik kaki lelaki tua itu, tetapi tak ada reaksi. Ia menggelitik sekujur badan orangtua itu. Sia-sia. Lelaki tua tersebut tak juga tertawa. Akhirnya ketiga lelaki itu menggelitik sekujur badannya secara bersamaan.

Lelaki Tua: “Aduh…aduh, sakit! Aduh perih! A…duh!” (mengerang)

Lelaki 1,2,3: (Terkejut, menghentikan tindakan mereka) “Sakit? Perih?”

Lelaki 2: “Mengapa kau tak tersenyum? Seharusnya kau tertawa! Orang akan tertawa bila kegelian!”

Lelaki tua: (melotot) “Aku tidak bisa, tahu! Bodoh! Bukankah sudah kukatakan sejak tadi, aku tak bisa lagi tersenyum. Jadi berhentilah melakukan hal yang konyol! Tolong aku, anak muda!”

Lelaki 1,2,3 berpandangan keheranan.

Lelaki 1: (bangkit) “Sebentar, aku punya akal!” (pergi)

Lelaki 2 dan 3 bangkit sambil memandang lelaki tua itu sebal. Mereka bolak-balik di hadapan lelaki tua itu sambil memikirkan cara membuatnya tersenyum. Sesekali lelaki 2 nyengir kuda melihat gaya lelaki 3 yang centil. Tetapi lelaki tua itu sama sekali tak bergeming.

Lelaki 3 (bindeng): (berlari gembira menghampiri lelaki tua itu) “Aih, aku punya dollar yang banyak! Kau mau? Ambillah? Nih, ini! Semua menjadi milikmu!”

Lelaki Tua: “Untukku? Boleh.” (memasukkan semua dolar ke sakunya).

Lelaki 3 : (bengong, bindeng) “Mana ucapan terimakasihmu?”

Lelaki Tua: “Terimakasih.” (datar)

Lelaki 3: (kesal, bindeng) “Di mana-mana, orang itu kalau dikasih bantuan, apalagi uang, matanya berbinar-binar, hati menjadi girang dan ia akan tersenyum bahkan tertawa. Bagaimana sih?”

Lelaki Tua: (cemberut) “Ngasih kok nggak ikhlas. Sudahlah, tolong saja aku dan para penduduk kota agar bisa tersenyum kembali….”

Lelaki 2 dan 3: “Huh!” (kesal)

Tiba-tiba, lelaki 1 datang bersama seorang badut yang lucu sekali. Badut itu menari-nari, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sang Badut mengitari lelaki tua dan mencoba terus menghiburnya.
Badut (jenaka) : “Apakabar, Pak tua? Tralala trilili, aku pelucu, penghibur semua orang (tertawa-tawa), janganlah takut!” (badut memamerkan berbagai aksi lucu)

Lelaki 1,2,3 : (tertawa dan bertepuk tangan melihat aksi badut)

Lelaki tua itu menatap Sang Badut agak lama, lalu di luar dugaan, ia malah menangis. Lambat laun tangisan itu berubah isakan yang semakin kencang. Lelaki 1,2 dan 3 keheranan.

Lelaki Tua: ( Menangis, sedih sekali) “Mengapa harus ada orang sepertimu? (menunjuk-nunjuk badut). Setelah tiga puluh dua tahun kepedihan ini kau muncul dengan konyolnya.”

Lelaki 3: “Aih, apa maksudmu, Pak Tua!”

Lelaki 1: “Ya, bukankah seharusnya badut dapat membuat orang tersenyum dan tertawa?”

Lelaki Tua: (menangis)“Sungguh, aku telah melihat badut-badut bermunculan tahun ini di sepanjang jalan di kota kami. Seolah mereka adalah pahlawan yang bisa mengurangi derita dan membuat kami menyunggingkan senyuman. (mencoba berhenti menangis) Dengar! Kami hanya bisa menertawakanmu dalam kegetiran terpencil di sudut sanubari kami. Kalian tak bisa membodohi kami. Sebab kalian cuma badut! Bahkan bila kalian mengenakan jas, dasi atau sorban sekali pun! Senyumku bukan untuk orang seperti kalian!”

Lelaki 2: “Oh, Tuhan! Aku tak mengerti! Ia malah marah!”

Badut: (Kesal) “Ya, sudah. Lebih baik aku pergi.”

Lelaki 1 dan 2 berpandangan bingung sambil menggelengkan kepala. Lelaki 3 dengan centil melambai-lambaikan tangannya pada Sang Badut.

Lelaki 3: “Aih, daaag, Om Badut!”

Suram. Ke empat lelaki itu termenung sesaat.

Lelaki Tua: (berjalan,mencari, mendamba)“Senyuman…,di mana senyuman itu? Aku ingin membawa berjuta senyuman kembali ke kota kami…, senyuman…mana senyuman itu? Kehidupan kota kami bagai mati tanpa senyuman….” (merintih sedih)

Hening.

Lelaki 1: (berteriak) “Pak Tua! Hei, Pak Tua! Sebenarnya siapakah yang mengambil semua senyuman dari kota kalian!?”

Lelaki 2: “Ya! Itu yang belum kau ceritakan pada kami!”

Lelaki Tua: (mengernyitkan kening, menggelengkan kepala, menerawang) “Aku tidak begitu pasti. Mereka para penjarah.”

Lelaki 2: “Penjarah? Apa yang mereka jarah?”

Lelaki Tua: “Apa saja. Harta, kedudukan bahkan kehormatan. Mereka menjarah beras, gula juga perempuan. Mereka membakar dan membuat onar. Memaksa kami menggigil karena takut dan lapar, setiap malam dan siang. Mereka bermain-main dengan darah lalu tiba-tiba para ulama kami mati. Kemudian tak ada lagi senyum yang bisa kami temukan. Semua senyum mereka rampas, untuk mereka bagikan pada orang-orang gila yang kini berkeliaran di kota kami…. “

Hening lagi.

Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk. Lelaki-lelaki itu mencari arah datangnya suara dan terkejut melihat banyak orang menuju ke arah mereka. Wajah orang-orang itu seperti mencari sesuatu. Lelaki 1 segera menghampiri salah seorang di antara mereka.

Lelaki 1: “Siapa kalian? Darimana dan hendak kemana?”

Orang 1: “Kami mencari orang-orang yang bercahaya.”

Lelaki 2: (menghampiri) “ Orang-orang yang bercahaya?Apa maksudmu?”

Orang 1: “Kami telah kehilangan senyuman. Hanya orang-orang bercahaya yang bisa mengembalikan senyum kami.”

Lelaki Tua : ( tersentak, tergopoh-gopoh) “Jadi kalian juga seperti aku? Hidup tanpa senyuman?”

Orang-orang itu mengangguk-angguk.

Lelaki Tua: “Dan hanya orang-orang yang bercahaya, yang bisa membuat kita kembali tersenyum?”

Orang 1: “Ya.”

Lelaki 2: “Siapa mereka? Di mana mereka?”

Orang 1: “Entahlah. Kita bisa jelas mengetahui, ketika kita melangkah di jalan cahaya….”
Lelaki Tua: “Melangkah di jalan cahaya?”

Orang 1: “Ya, melangkah di jalan cahaya!”

Orang-orang itu mengangguk-angguk dan segera berlalu dari hadapan mereka. Tiba-tiba lelaki tua menyusul. Ia berlari ke arah orang-orang itu.

Lelaki Tua: “Aku ikut! Cahaya! Cahaya!” (berlari meninggalkan ketiga lelaki yang tampak bingung).

Lelaki 3: “Aih, masak sih senyuman begitu susah dicari. Sampai harus menuju cahaya segala. Lihat nih (pada lelaki 2), senyumku manis kan?”

Lelaki 2: (melompat, terbelalak) “Itu bukan senyuman! (pada Lelaki 1) Teman, lihatlah, seringainya! Menyeramkan!”

Lelaki 3: (bingung, mencoba tersenyum, tetapi yang tampak seringai yang mengerikan)

Lelaki 1: “Benar! Kkkau menakuti kami! Seharusnya kau tersenyum. Lihat senyumku, ini…”

Lelaki 3: (takut) “Aih, tolong!! Senyummu membuatku takut! Toloooong!” (lari meninggalkan Lelaki 1 dan Lelaki 2).

Lelaki 2: “Berhenti tersenyum! Kau menyeramkan. Nah, lihat senyumku (mencoba tersenyum, tetapi kaku) “A…apa yang terjadi…, a…aku tak bisa tersenyum….”

Lelaki 3: (memegang bibirnya) “A…aku juga…,mengapa bisa begini? Apa yang…sebenarnya terjadi?”

Panik.

Lelaki 1 dan 2: (sedih, bingung) “Senyuman…, di mana senyuman? (mencari, melangkah tak tentu arah) Cahaya…, cahaya… di mana cahaya? Senyuman…senyuman… di mana senyuman…? Cahayaaaa!?? Senyumaaaann!?? Senyumaaaan!?? Cahayaaaa!??”

Dia Mencium Bau Surga


Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “ Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya… diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.”;\
            Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,”Wah …. angin surga, sunguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik gunung Uhud.” 
            Seorang Doktor bercerita kepadaku, “ Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal - semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya? 
            Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya –semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh.
Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa?
           
            Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka,
‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal … tenanglah … sesungguhnya aku mencium wangi surga.!’ Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri… karena sekarang aku mencium wangi surga.’

            Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta subhanahu wa ta’ala.

            Allahu Akbar … apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku komentari…Semua kalimat tidak mampu terucap … dan pena telah kering di tangan… Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “ Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat.” (Ibrahim : 27)
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.

            Ia melanjutkan kisahnya,
            “Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan.  Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya’ di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan  yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.

  1. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat”. Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.
  2. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red) dingin, kering dan kaku.
  3. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.

Subhanalllah … Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugrahkan kita khusnul khatimah.
Saudara-saudara tercinta … kisah belum selesai…

            Saudara Dhiya’ bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya?

            Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya?
Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul khatimah (insyaAllah –red) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-ngidamkann ya; meninggal dengan mencium wangi surga.

            Ayahnya berkata, “Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah. Ia gemar menghafal al-Qur’an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU.”

Aku katakan, “Maha benar Allah” yang berfirman (yang artinya-red)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan  (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fhushilat:30- 32)

Diambil dari : Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir.
— 
Sumber : Majalah elfata hal 65-67 edisi 06 volume 07 tahun 2007 dengan sedikit perubahan redaksi.

Parfum Bagi Wanita


Rasulullah SAW bersabda, artinya 

“Jika wanita memakai minyak wangi untuk selain suaminya, maka sesunggunya itu adalah apa neraka dan suatu aib yang buruk”. (Thabrani)

“Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian dan melewati kumpulan orang-orang sehingga mereka mencium bau harumnya, maka is adalah pezina”.(Nasai, Ahmad, Hakim)

Dari pemaparan dua hadis di atas seharusnya sudah jelas bagi kita semua terutama kaum wanita dalam hal hukum memakai parfum atau wangi-wangian. Rasulullah telah memberikan sebuah peringatan dan bahkan menyatakan bahwa wanita yang memakai wangi-wangian agar dicium orang orang lain selain mahram adalah termasuk pezina.

Semua dari tubuh wanita adalah keindahan dunia. Dari keindahan tubuh itu saja bisa menarik perhatian dan nafsu laki-laki jika si wanita tersebut tidak menjaganya. Apalagi jika hal itu semua ditambah dengan bau semerbak wangi-wangian yang menggoda, hal tersebut akan mengakibatkan semakin tinggi daya tarik dan nafsu laki-laki juga akan semakin tinggi. Hal ini akan berdampak terjadiya kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Memang sudah menjadi sebuah trend masa kini bahwa memakai wangi-wangian adalah wajib bagi para remaja putri. Entah pergi ke sekolah, kampus atau hanya sekedar keluar rumah saja mereka harus memakai minyak wangi agar lebih PD (percaya diri).  Dalam islam tidak memperbolehkan wanita menggunakan parfum ketika keluar rumah dengan alas an yang kurang syar’i. Dengan alasan agar bisa lebih PD, biar nggak diira kuno, biar gaul, dlsb, itu semua tidak diperbolehkan dalam Islam.

Syeikh Abdul Halim Hamid bahwa demikianlah Islam mengharamkan bagi wanita mendatangi majelis serta lewat dijalanan dengan aroma parfum, karena hal itu akan mebuka pintu-pintu kerusakan dan fitnah.

Kembali ditegaskan dan kita saling mengingatkan, bahwa kecantika, keindahan dan keharuman tubuh wanita shalihah selayaknya hanya diperuntukkan kepada suaminya kelak agar perbuatan tersebut bernilai pahala dan mendatangkan rahmat dari Allah bukan malah mendatangkan laknat dari-Nya.

*Rendi Handoko

Kamis, 04 November 2010

CEWEK TUH EMANG ANEH?!

            Kenapa ya, segala yang ada pada seorang cewek tu jadi kesukaan para lelaki???! entah senyumnya, entah wajahnya, entah kulitnya, entah suaranya atau bahkan tubuhnya. Cewek tu emang diciptakan sebagai perhiasan. Apa aja yang ada pada cewek pasti itu indah. apalagi yang ada pada cewek cantik. Wajahnya cantik, kulitnya putih bersih, senyumnya indah, suaranya sangat merdu, tubuhya seksi, jalannya sangat anggun, pakaianya sangat serasi. Kedipan matanya sangat menawan. Apalagi saat dia tersenyum manja sambil sedikit menggerakkan mata. Sungguh lelaki mana yang kuat untuk menolaknya.

          Tapi sayang, aku sebagai kaum lelaki sangat kecewa terhadap para wanita ato cewek sekarang. Mereka belum ato bahkan tidak mengetahui tentang diri mereka yang sebenarnya. Apa saja yang ada pada cewek, mereka belum memahaminya. Sungguh sangat mengecewakan. Apa yang harusnya mereka jaga, mereka umbar n’ dikasihkan ma orang lain githu aja. Apa g sayang??! Eh tu titipan yang harus kamu jaga n’ lindungin.

            Contoh aja. U punya kulit bagus, lembut, bersih, putih lagi. Tapi kenapa kok u biarin githu aja orang lain bahkan lelaki yang bukan mukhrimmu nyetuh apalagi nikmatin kelembutan kulitmu. G rugi apa?! Mungkin suara merdumu. Kenapa sih suara merdu u itu harus diperdengarkan ma lelaki yang g halal bagi u. sayang atuh dek. Trus tentang tubuh u. tolong donk jaga n lindungin baik-baik. Coz banyak sekali mata-mata yang siap menerkam diri u.

           Apa sih yang kalian inginkan dari mengumbar , memamerkan, mempertunjukan aurot kalian. Kalian dah tahu kan hukumnya??? Atau mungkin kalian pura-pura g tahu??? Kalian tuh g akan dapat apa2 dari perbuatan kalian tadi. So, tolong jaga donk aurot kalian. Coz tuh adalah sesuatu yang paling berharga dari yang u punya.

           Semua keindahan yang ada pada diri u, serahin aja nanti pada suami u. biarkan suami u puas menikmati keindahan yang u punya. G usah disembunyikan. Coz nyenengin suami tuh dapat pahala. Asalkan……. Nanti aja kita bahas. Kita bahas yang ini dulu.

            Sekali lagi tolong donk jaga aurot n tindakan u. kami para lelaki sebenernya juga seneng ngelihat aurot yang u tunjukan pada kami. Tapi bagi sebagian lelaki yang mengerti, merasa sangat kasihan ma kalian. Sungguh kalian akan merasa sangat rugi. U yang kehilangan tapi u g mendapatkan apapun. Sekali lagi, saya mewakili kaum lelaki. Tolong jaga n lindungin ourot u baik-baik. Biarkan suamimu saja yang berhak menikmati. Ok. Semoga berhasil